BERITA JURNALISTIK

Kariani Laia (14) terpaksa menggantungkan seragam putih-birunya. Siswi kelas VII ini harus putus sekolah lantaran orangtuanya tak lagi mampu membayar tunggakan uang buku dan seragam.
BERITA REKOMENDASI
Putri penarik becak ini masih memiliki utang Rp510 ribu untuk buku-buku pelajaran dan Rp327 ribu untuk seragam. "Saya terus ditagih oleh sekolah. Tapi orangtua saya tak sanggup membayarnya. Saya malu di sekolah," ujarnya Kariani saat ditemui di kontrakan orangtuanya. belum lama ini.
Meski ayahnya Saroganita Laia (41) banting tulang mencari uang sebagai penarik becak, pendapatannya tak cukup untuk membayar tunggakan buku dan seragam itu. Bahkan ibunya, Ferimani Nduru (38) juga tak bisa meringankan beban sang suami karena harus merawat mertuanya yang terkena stroke.
Tak hanya Kairani yang menjadi korban dari lilitan kemiskinan. Adiknya, Yubianto Laia (12), juga terancam putus sekolah. Sang adik kini duduk di kelas VII pada sekolah yang sama. Seperti Kairani, Yubianto juga menunggak uang buku sebesar Rp140 ribu.
"Sudah dua bulan. Entah kami sanggup membayarnya atau tidak," tutur Ferimani terisak.
Kariani sendiri sangat membenci dirinya karena tak bisa meneruskan pendidikan. Dia mengaku, ingin sekali bisa bersekolah dan meneruskan pendidikan di jurusan perhotelan.
"Saya rindu kerja di hotel," ujar Kariani.
Keluarga Saroganaita Laia tercatat sebagai warga miskin sesuai Kartu Perlindungan Sosial yang pernah diterbitkan Kepala Bappenas pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Armida S Alisjahbana. Domisilinya sesuai Kartu Penduduk adalah di Jalan CUT NYAK DIEN, Kelurahan Padang Bulan Selayang I, Kecamatan Medan Selayang. Namun keluarga ini terpaksa berpindah-pindah karena harus mencari kontrakan murah.
Pendapatan Saroganita perhari tidak menentu. Sementara pengeluaran untuk ongkos ke sekolah tiga orang anaknya minimal Rp30 ribu per hari. Lelaki kurus ini memiliki lima anak.
BERITA REKOMENDASI
"Paling hebat kalau bisa dapat Rp 30 ribu bawa ke rumah. Itu sudah harus keliling-keliling cari sewa. Saya harus isi bensin Rp 20 ribu sehari," bebernya.
Terpisah, Surianto, Anggota Komisi B DPRD Medan merasa prihatin atas kondisi Kairani. Diamenyebut, anak tersebut berhak mendapatkan pendidikan untuk melanjutkan impiannya. Karena itu, ia meminta Pemko Medan agar cepat-tanggap atas persoalan Kairani.
"Nanti kita tanyakan kepala sekolahnya. Anak ini harus dibantu. Jangan sampai dia minder dan tak bersekolah. Pemko Medan harus tanggap. Itu kan ada bantuan siswa miskin. Anak ini harus kita tolong," tegas Surianto.
(rfa)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

my life today